REJEKI SEMPURNA
“Harta adalah rejeki yang paling rendah, kesehatan adalah rejeki yang paling tinggi, anak Soleh adalah rejeki yang paling utama, sedangkan mendapat ridho Allah adalah rejeki yang sempurna”
Dawuh Al-Imam Ad-Du’ati Asy-Syekh Prof DR Muhammad Mutawalli Asy-Sya’râwi (16 April 1911. – 17 Juni 1998 M) kairo
Radhiitu billahi rabba [Aku rela (senang) Allah sebagai Rabb (Tuhanku)]
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَ الْجَنَّةَ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَ النَّارِ
Allahumma inni as’aluka ridhaka wal jannah, wa a’udzu bika min sakhathika wan nar. [Ya Allah aku (kami) memohon kepada-Mu akan ridha-Mu dan surga; dan aku (kami) berlindung kepada-Mu dari kemurkaan-Mu dan siksa neraka]
Ridha merupakan bentuk mashdar (infinitive), dari radhiya-yardha yg berarti: rela, menerima dgn senang hati, cinta, merasa cukup (qana’ah), berhati lapang.
Bentuk lain dari ridha adalah mardhat dan ridhwan (yg super ridha). Antonim kata ridha adalah shukht atau sakhat, yg berarti murka, benci, marah, tidak senang, dan tidak menerima.
Ridha adalah engkau berbuat sesuatu yg membuat Allah senang atau ridha, dan Allah meridhai apa yg engkau perbuat. Ridha hamba kepada Allah berarti ia menerima dan tidak membenci apa yg menjadi ketetapan Allah.
Sedangkan ridha Allah kepada hamba berarti Dia melihat dan menyukai hamba-Nya yg menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Ada dua dimensi ridha, yaitu ridha billah dan ridha ‘anillah. Ridha billah atau rela dan cinta kepada Allah berarti bersedia mengimani dan menjadikan-Nya sbg Dzat yg wajib diibadahi, tidak menyekutukan-Nya, dimintai pertolongan, dan ditaati syariat-Nya.
Sedangkan ridha ‘anillah berarti hamba menerima ketentuan, takdir, rizki, dan segala sesuatu yg ditetapkan oleh-Nya.
Ridha dalam konteks ini tidak berarti hamba menyerah-pasrah tanpa usaha, berdoa dan bertawakkal. Sebaliknya, hamba diharuskan memahami hukum sebab-akibat, berusaha maksimal dan berdoa.
Ridha kepada Allah mengharuskan hamba untuk selalu beriman kepada-Nya, termasuk percaya kepada qadha dan qadar-Nya; mencintai dan menaati syariat-Nya; mencintai Rasul-Nya dan mengikuti keteladanannya; menjadikan Islam sbg agama pilihan hidupnya; dan mengorientasikan hidupnya dengan penuh keikhlasan untuk meraih cinta dan ridha-Nya.
Oleh karena itu, ada tiga kategori ridha yg harus ditapaki hamba. Pertama, ridha bi syar’illah (syariat Allah) berarti menerima dan menjalankan syariat-Nya dgn ikhlas dan penuh dedikasi.
Kedua, ridha bi qadha’illah (ketentuan Allah) berati tidak menolak dan membenci apa yg telah ditetapkan Allah, termasuk segala sesuatu yg tidak menyenangkan (musibah), karena ujian dari Allah merupakan tangga peningkatan derajat iman.
Ketiga, ridha bi rizqillah (rezeki Allah) berarti menerima dan merasa cukup (qana’ah) terhadap rezeki yg dianugerahkan kepadanya, tidak rakus dan tidak serakah, meskipun sedikit dan belum mencukupi kebutuhannya.
Dengan demikian, menggapai ridha Allah itu merupakan keharusan bagi setiap Muslim, karena Allah menjadikan ridha itu sebagai syiar kehidupan akhirat.
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ○ لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ○ فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ○
“Pada hari itu banyak (pula) wajah yg berseri2, merasa senang (ridha) karena usahanya (sendiri), (mereka) dalam surga yg tinggi.. (QS. al-Ghasyiyah ayat 8-10).
Allah selalu memanggil hamba-Nya yg berhati ridha.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾
“Hai jiwa yg tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dgn hati yg ridha dan diridhai-Nya” (QS al-Fajr : 27-30).
Imam Fakhruddin Al-Razi dalam kitab tafsirnya, Mafatih Al-Ghaib (1985, Vol. 31, h. 177), dgn mengutip statement Imam Al-Qaffal (salah satu Ulama terkemuka didalam Madzhab Syafi’i), menyebutkan “meskipun Allah menyebutkan dgn menggunakan redaksi kata perintah (Fi’il ‘Amr), namun yg dimaksud dari redaksi tsb adalah kata informative (Kalam Khabariyyah). Artinya, ketika jiwa seseorang telah mengalami ketenangan sebagaimana dalam penjelasan muthmainnah, maka jiwa tsb akan kembali kepada keharibaan Allah dalam kondisi yh ridho (radhiyatan) dan diridhai (mardhiyyatan).
Selain itu, Allah menjadikan ridha itu sbg salah satu syarat terwujudnya rukun iman. Seseorang tidak disebut beriman manakala tidak ridha terhadap segala ketentuan Allah. Ridha juga dapat mengantarkan Mukmin menjadi mukhlis, tulus ikhlas karena Allah sehingga amalan2nya dapat diterima oleh-Nya.
Ridha juga dapat menjadi obat hati yg dapat menangkal segala penyakit hati, sekaligus dapat membuat hati lapang dan merasa qana’ah terhadap segala pemberian Allah.
Ridha merupakan salah satu faktor yg menyebabkan hidup Muslim menjadi tenang, damai, tenteram, tidak diliputi keresahan dan kegalauan. Ridha merupakan salah satu jalan yg mengantarkan kepada pendekatan diri (taqarrub) kepada Allah.
Dengan ridha, hamba dapat menghiasi dirinya dgn akhlak mulia, menjauhkan diri dari perbuatan tercela dan sia2, karena standar ridha kepada Allah itu menuntut hamba untuk selalu taat dan bertaqwa kepada-Nya.
Menggapai ridha Allah senantiasa dilakukan dgn memperoleh ridha kedua orang tua dalam segala hal. Rasulullah Saw bersabda: “Ridha Allah itu tergantung pada ridha kedua orang tua; dan kemurkaan Allah itu juga tergantung pada kemurkaan keduanya.” (HR. Muslim)
Untuk lebih memantapkan usaha kita dalam menggapai ridha-Nya, ada baiknya kita selalu berdoa:
رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yg telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yg Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dgn rahmat-Mu ke dalam golongan hamba2-Mu yg shaleh.“ (QS. an-Naml/27: 19)
